Peluang
Usaha Budidaya Ikan Lele Di Kudus Masih Menjanjikan
Kudus, isknews.com –
Peluang usaha budidaya ikan lele di Kabupaten Kudus masih sangat terbuka.
Pasalnya, sampai saat ini jumlah produksi pembudidaya ikan lele belum mencukupi
kebutuhan konsumen.
Budidaya ikan lele
merupakan salah satu jenis bisnis yang sejak dulu diminati oleh banyak orang.
Seperti yang kita tahu bahwa ikan lele merupakan jenis ikan yang mudah untuk
dipelihara dan mudah untuk dipasarkan. Permintaan ikan lele di masyarakat
sangatlah besar, itu bisa kita lihat dengan banyaknya usaha kuliner yang
menyajikan menu lele selalu ramai.
Hingga saat ini produksi
lele konsumsi di Kabupaten Kudus masih sangat jauh dari kebutuhan pasar
sehingga kekurangan pasokan diisi oleh para tengkulak yang membeli dari luar
Kudus. Seperti Kabupaten Pati dan Demak. Bahkan kadang-kadang mendatangkan ikan
lele dari wilayah Jawa Timur yakni Tulungagung, Blitar dan Kediri.
Hal tersebut
disampaikan oleh, Ir R.A Amiputri, Kasie Produksi Perikanan Bidang Perikanan
Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Kudus, Produksi ikan budidaya di Kudus
pada sementer pertama tahun 2017 ini yang berasal dari kolam besar dan kecil
mencapai 937 ton. Jumat (8/9/17).
” Semua jenis ikan
sebanyak itu dibudidayakan dari kolam sejumlah 80 hektar. Angka tadi dari semua
jenis ikan lho ya, bukan hanya jenis lele ,” ujar Amiputri.
Angka 937 ton apabila
dihitung perhari maka akan ketemu jumlah produksi 5,2 ton total semua jenis
ikan budidaya. Khusus untuk jenis ikan lele dua pertiganya atau 3,4 ton.
Sedangkan kebutuhan di
Kudus apabila dihitung berdasarkan target konsumsi ikan 14 kilogram perkapita
pertahun, maka ketemu angka pasokan 33 ton perhari. Diasumsikan duapertiga dari
angka itu jenis lele maka dibutuhkan lele 22 ton perhari.
“ Saat ini jumlah ikan
lele dari Kudus 3,4 ton perhari. Ditambah lima orang tengkulak yang
mendatangkan ikan lele dari Demak, Pati dan Boyolali sekitar paling banyak 10
sampai12 ton. Sebenarnya masih ada 10 tengkulak ikan lainnya yang sering
mendatangkan dari luar kota, tapi mereka tidak dibidang lele.
Seperti mendatangkan
bandeng, ikan laut, gurami, nila dan lainnya. Jadi masih ada kekurangan sekitar
10 ton perhari. Angka ini bisa semakin bertambah karena jumlah penduduk di
Kudus juga bertambah dan pelaku usaha warung pinggir jalan juga bertambah. Jadi
Kudus sangat kekurangan pasokan. Ini peluang untuk budidaya ,” jelasnya.
Amiputri menyayangkan
peluang ini belum bisa dimanfaatkan oleh warga atau pembudidaya ikan lele
karena terhambat harga pakan. Selain itu, warga yang melakukan usaha pembesaran
lele juga hanya sebagai sampingan. Bukan sebagai usaha utama.
“ Jumlah pembudidaya
terus menurun. Awal tahun terdata 1600-an, tetapi sekarang sekitar seribuan. Ya
itu, tadi karena pakan yang mahal sehingga perhitungan mereka sangat tipis.
Selain itu juga mereka pas ada kebutuhan seperti menyekolahkan anak atau
kebutuhan lain, maka dana untuk budidaya lele dipindahkan untuk memenuhi
kebutuhan tersebut ,” urainya.
“ Kalau secara
pemasaran tidak ada masalah. Sebab ketika pemilik kolam sudah diketahui tengkulak,
maka setiap panen akan didatangi ,” imbuhnya.
Isnuroso, Kasie Usaha
Perikanan, menambahkan, sebagai salahsatu solusi dari Dinas Pertanian dan
Pangan yakni dengan melakukan pelatihan gerakan pakan mandiri. Sehingga
dihasilkan pakan yang murah namun kualitas tidak kalah dengan pabrikan.
“ Beberapa waktu lalu
sudah kita lakukan ke puluhan pembudidaya dan pelaku usaha bidang perikanan.
Bagaimana supaya bisa membuat pakan sendiri dengan memanfaatkan potensi lokal
setempat.
Jadi tidak tergantung
pakan pabrikan dan tidak terhambat mahalnya pakan. Bahan pakan pabrik kan
berasal dari import sehingga cenderung naik. Nah, dengan bahan lokal malah bisa
gratis karena tinggal mengambil dari lokasi sekitar ,” tambah Isnuroso.
Solusi lainnya yakni
berkoordinasi dengan Dinas perdagangan yang mengelola pasar agar menyediakan
khusus kawasan perdagangan ikan. Tujuanya agar pembudidaya bisa memotong mata
rantai perdagangan sehingga langsung ke konsumen.
“ Saat ini harga di
kolam pembudidaya lele ke tengkulak perkilo Rp 16 ribu untuk lele konsumsi.
Sedangkan di pasar pada awal Agustus ini harganya Rp 22 ribu-an.
Nah, kalau ada pasar
ikan yang setiap standnya dari para pembudidaya lele tentu akan semakin
menggairahkan dalam usahanya. Sehingga menjadikan sebagai usaha utama bukan
sampingan lagi,” jelasnya. (YM)
Nama : Nurhayati Ningsih
NIM : 14/365182/PN/13725
Gol : A.5.1

Analisis Artikel Cyber Extension
BalasHapusNama:Salsabila Noorannisa
NIM: 15/385663/PN/14445
Golongan: A51
Kelompok: 9
a. Adakah nilai penyuluhan?
a. Sumber teknologi atau ide
Ada, yaitu berupa peluang usaha budidaya ikan lele di kabupaten kudus yang menjanjikan
b. Sasaran
Ada, sasarannya adalah masyarakat di Kabupaten Kudus yang ingin memiliki usaha budidaya ikan lele atau pembudidaya ikan lele yang ingin fokus menjadikan usahanya menjadi pekerjaan utama.
c. Manfaat
Ada, jumlah produksi pembudidaya ikan lele dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu juga pembudidaya dapat memotong mata rantai perdagangan sehingga ikan dapat diperjual-belikan langsung ke konsumen.
d. Nilai pendidikan
Ada, masyarakat diajarkan bagaimana supaya bisa membuat pakan sendiri dengan memanfaatkan potensi lokal setempat
b. Sebutkan dan jelaskan nilai berita yang terkandung dalam artikel
a. Timelines
Berita yang disampaikan merupakan berita baru dan tidak basi karena diterbitkan pada tanggal 10 September 2017
b. Proximity
Berita yang disampaikan bersifat dekat secara non fisik dengan masyarakat yang ingin memiliki usaha budidaya ikan lele di Kabupaten kudus atau pembudidaya di Kudus yang ingin menjadikan pekerjaannya menjadi pekerjaan tetap sebagai pembudidaya ikan lele.
c. Importance
Berita yang disampaikan berisikan informasi penting yang ditujukan kepada masyarakat perihal peluang usaha budidaya ikan lele yang menjanjikan di Kabupaten Kudus mengingat saat ini pembudidaya lele di Kudus belum mampu memenuhi permintaan pasar.
d. Consequence
Artikel ini memiliki tindakan yang dapat menyenangkan orang banyak, dalam hal ini adalah masyarakat Kabupaten Kudus yang ingin memiliki usaha budidaya ikan lele, karena peluang usaha yang ditawarkan sangat menjanjikan, mengingat pembudidaya lele di Kabupaten Kudus belum bisa memenuhi permintaan lele konsumsi di masyarakat.
e. Conflict
Kesulitan yang dihadapi dalam artikel ini adalah peluang usaha budidaya ikan lele belum bisa dimanfaatkan oleh warga atau pembudidaya karena terhambat harga pakan. Selain itu juga warga yang melakukan usaha pembudidayaan lele hanya sebagai sampingan, bukan usaha utama. Selain itu juga, terkadang dana untuk budidaya lele digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti untuk menyekolahkan anak atau kebutuhan rumah tangga lainnya.
f. Development
Artikel ini menyangkut tentang kegagalan pembangunan yaitu belum termanfaatkan peluang budidaya ikan lele karena terkendala biaya pakan yang tinggi